Jakarta – Muhammad Furqon, 45 tahun, membeberkan alasan mengawasi sekelompok warga menghuni paksa Kampung Susun Bayam di Papanggo, Tanjung Priok, Ibukota Utara, dua pekan terakhir. Furqon mengklaim ada 64 kepala keluarga di kelompoknya ini.

Mereka semula bertahan pada selasar atau lantai dasar kampung susun yang mana telah dilakukan diresmikan Pengurus Anies Baswedan pada Oktober tak lama kemudian namun belum kunjung dihuni tersebut. Mereka tinggal dalam sana sembari menuntut juga menanti janji pemberian unit seperti yang dimaksud pernah disampaikan era Pemuka Anies.

Terhimpun sebagai Grup Tani Madani Kampung Bayam, Furqon juga mengungkap janji kelompok tani itu akan diberdayakan kembali. Itu sebabnya, rencana dia berikutnya setelahnya memaksa masuk unit hunian adalah kembali bercocok tanam. 

Tapi Furqon mengungkap ada perbedaan dari praktik bertani sebelum penggusuran dalam mana merek bertani ipomoea aquatica dan juga bayam. “Sekarang kacang tanah sebab airnya tiada ada,” kata ia pada waktu ditemui pada Kamis, 14 Desember 2023. 

Sebanyak 64 KK itu seperti diketahui masuk lalu meninggali unit hunian pada lantai dua kampung susun itu dengan cara menimbulkan kunci sendiri. Mereka sudah pernah melakukannya sejak 29 November 2023 lalu, meskipun tanpa suplai listrik lalu air, lantaran tanpa izin pemilik dan juga pengelola Kampung Susun Bayam, PT Ibukota Propertindo.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bermain bola bersatu sebagian anak pada waktu meninjau unit hunian di dalam Kampung Susun Bayam, Jakarta, Rabu, 12 Oktober 2022. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Furqon menyatakan tak gentar karenanya. Termasuk menghadapi upaya Jakpro menggandeng kepolisian. “Ada prasasti yang ditanda tangani Kepala daerah Anies Baswedan pada waktu peresmian,” ucapnya. Menurutnya, itu bukti bahwa bangunan Kampung Susun Bayam memang benar resmi dibangun untuk mereka.

Perpecahan ke Balik Tuntutan 

Furqon kemudian Tim Tani Madani Kampung Bayam adalah sebagian dari warga eks Kampung Bayam yang digunakan selama ini menuntut janji yang dimaksud pernah disampaikan Pemimpin wilayah Anies untuk mampu masuk Kampung Susun Bayam. Mereka sebelumnya telah lama menerima ganti untung untuk relokasi yang tersebut harus dijalani dikarenakan konstruksi Ibukota Indonesia International Stadium (JIS) atau dulu pernah dikenal sebagai Stadion BMW tersebut.

Sebagian dari merek pada masa kini telah terjadi menghuni unit-unit di dalam Rusun Nagrak, Cilincing, Ibukota Indonesia Utara, sebagai bagian dari kesepakatan dengan Jakpro. Mereka direlokasi dari tenda-tenda yang tersebut didirikan di pinggir jalan dekat JIS mendekati acara Piala Planet U-17 pada awal November lalu.

Janji yang tersebut diberikan ketika itu, relokasi hanya sekali sementara sebelum bisa saja menghuni Kampung Susun Bayam dengan, antara lain, menyepakati mengenai tarif sewa bulanan.

Menurut Furqon, warga eks Kampung Bayam pecah dalam berada dalam tahapan negosiasi itu. Disebutkannya, Jakpro terakhir memohonkan warga membayar Rupiah 750 ribu untuk penempatan hunian namun ditawar bermetamorfosis menjadi Simbol Rupiah 600 ribu. Biaya itu dalam luar biaya listrik, air, serta perawatan.

Belum sempat sepakat, kata Furqon, ada kubu warga yang tersebut mendirikan tenda di dalam samping JIS sebagai bentuk penolakan. Saat itu tepatnya 21 April 2023.

“Kami tunggu ketika rapat bersama, juga kami tanyakan pada semua warga, sepakat. Tiba-tiba ada yang dimaksud buat demo dalam sana, siapa yang dimaksud mengacau gak tahu dalam tenda itu,” ucapnya.

Baca halaman berikutnya: apa katai warga eks Kampung Bayam di Rusun Nagrak?

  • 1
  • 2
  • 3
  • Selanjutnya

Artikel ini disadur dari Konflik Meraih Janji Anies di Kampung Susun Bayam

By admin