Jakarta – Serangan udara lalu darat negeri Israel ke Kawasan Gaza makin gencar pada pertempuran bertarung dengan organisasi Hamas yang digunakan sudah ada memasuki pekan ke-11 sejak serangan 7 Oktober 2023. Jika semula serangan difokuskan dalam Daerah Gaza utara, kali ini fokus negeri Israel beralih ke bagian berada dalam jalur sempit itu.
Tembakan tanah Israel menghantam Wilayah Gaza sedang pada Selasa, 26 Desember 2023, pasca Utama Menteri Benjamin Netanyahu berjanji tidak ada akan menghentikan serangan terhadap Hamas, pada saat penduduk di dalam wilayah pesisir itu berduka berhadapan dengan banyaknya individu yang terjebak jiwa pada pertempuran yang tersebut sudah pernah memakan korban lebih besar dari 20.000 warga Palestina.
Israel bertekad untuk mencapai tujuannya menghancurkan organisasi Hamas meskipun ada seruan global untuk melakukan gencatan senjata pada peperangan yang tersebut sudah berlangsung selama 11 minggu tersebut, dalam sedang kegelisahan bahwa konflik yang disebutkan dapat menyebar ketika pasukan Amerika serta Iran saling menyerang di dalam tempat lain ke wilayah tersebut.
Tanda-tanda konflik Daerah Gaza melebar ke kawasan sebenarnya sudah ada terlihat dengan pada saat dua kelompok proksi Iran, Hizbullah di dalam Lebanon dan juga Houthi di dalam Yaman, beraksi. Hizbullah menembakkan roket ke negeri Israel dan juga Houthi menyerang kapal apa pun yang digunakan melintas ke Laut Merah dengan tujuan ke Israel.
Netanyahu, yang tersebut mengunjungi pasukan negeri Israel ke Wilayah Gaza utara pada hari Senin, mengemukakan terhadap anggota parlemen dari Partai Likud bahwa pertempuran masih jarak jauh dari selesai dan juga menolak apa yang digunakan ia sebut sebagai ramalan media bahwa pemerintahnya mungkin saja akan menghentikan pertempuran tersebut.
Dia mengemukakan negara Israel tak akan berhasil membebaskan sisa sandera yang dimaksud ditahan oleh kelompok Hamas tanpa menerapkan tekanan militer. “Kami tak akan berhenti. Perang akan terus berlanjut hingga akhir, hingga kami menyelesaikannya, tidak ada kurang dari itu,” kata Netanyahu.
Tekat keras Netanyahu ini mendapat dukungan penuh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang dimaksud berkali-kali memveto resolusi gencatan senjata dalam Dewan Keselamatan PBB. Terakhir, Negeri Paman Sam bukan menggunakan hak vetonya di mana DK PBB mendiskusikan resolusi jeda kemanusiaan untuk bisa jadi memasok bantuan bagi warga Gaza.
Namun resolusi ini dianggap lemah oleh berbagai kalangan oleh sebab itu tidaklah mampu menekan negara Israel untuk menghentikan serangan.
Upaya mendudukan kedua seteru di dalam meja perundingan untuk mencapai gencatan senjata kembali dijalankan Kuwait lalu Mesir. Pemimpin gerakan Hamas Ismail Haniyeh mengunjungi Mesir pada Rabu 20 Desember 2023, untuk mengawali pembahasan tentang gencatan senjata di Kawasan Gaza juga kesepakatan pembebasan sandera.
Pemimpin kelompok Hamas yang mana berbasis pada Qatar, Ismail Haniyeh, tiba pada Kairo untuk berdiskusi mengenai “agresi pada Jalur Daerah Gaza serta kesulitan lainnya”, kata kelompok itu pada sebuah pernyataan.
Mediator Mesir mencoba memberi jalan tengah, yakni gerakan Hamas kemudian sekutunya Jihad Islam, melepas kekuasaan berhadapan dengan Kawasan Gaza sebagai imbalan untuk gencatan senjata permanen.
Kedua kelompok tersebut, yang mana telah lama mengadakan pembicaraan terpisah dengan mediator Mesir pada Kairo, menolak menawarkan konsesi apa pun selain kemungkinan pembebasan tambahan banyak sandera yang mana ditangkap pada 7 Oktober saat militan menyerang negara Israel selatan, yang dimaksud menewaskan 1.200 orang.
Upaya lain dilaksanakan Iran untuk memacu tercapainya gencatan senjata. Presiden Iran Ebrahim Raisi akan mengunjungi Ankara pada 4 Januari untuk bertemu dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan untuk melakukan pembicaraan yang dimaksud kemungkinan akan fokus pada situasi pada Wilayah Gaza kemudian Suriah juga hubungan bilateral, kata manusia pejabat Turki pada Selasa.
Meski tanda-tanda gencatan senjata permanen masih jauh, semua upaya harus dikerjakan untuk menekan negara Israel kemudian gerakan Hamas mau kembali duduk di meja perundingan. Korban sipil sudah ada terlalu banyak.
Artikel ini disadur dari Gencatan Senjata di Gaza Masih Jauh, Israel dan Hamas Sama-sama Ngotot